CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Wednesday, October 29, 2008

LAGU CINTA SEORANG LELAKI YANG ENGGAN MENJADI TUA


CINTA itu adalah sahabat setia
di atas pentas duka
adalah malam bertemankan tenang
menelusuri gelap pekat
sesejuk angin dingin
mendakap pohonan cemara di batas kota

Aduhai cinta
baris-baris kata dari jiwa remaja
dianyam menjadi puisi
terungkap bahasa abadi
untuk disimpan sampai mati

Wahai cinta
aku sudah tidak punya upaya
melukis malam seribu bintang
bertemankan suara pungguk
bertenggek di ranting kering
sepi dan sendiri
berahi menatap kekasihnya purnama
jauh di cakerawala
bercanda ditemani gugusan awan gemawan
bintang kejora dan sejuta cahaya
menyala membakar luka
kekasih yang lara

Setiap gerak setiap langkah
melalui lembah dan lurah
kutemui anak muda
bercerita tentang cinta
larik-larik madah
menggugah seribu wajah
membawaku menatap sejarah
lantas, aku pun kembali
pada semalam yang tak terlupakan

Saat mentari kembali berembunyi di sebalik banjaran gunung
air sungai mengalir menjadi permata
selembut sutera, mendakap tebing yang kedinginan
jadilah aku seorang lelaki
tertinggal di zaman silam
dan usiaku semakin muda
(atau akukah yang enggan menjadi tua?)
menggoda dengan kata-kata
menjadikan bunga di laman
kembali kembang menguntum harum
dengan seribu warna, sejuta wangian semerbak nirwana

Malam ini aku ingin bercerita tentang cinta
cinta wanita dari lembah nirmala
melangkah berani, meredah musim yang tak pasti
ketika mentari masih terlena
dan bulan teramat lelah

Kulayari subuh bersamamu
merentas lautan bening
yang tiba-tiba bertkar menjadi taufan
gelora menggila dan ombak menerkam pantai
pantai terkulai
dan kita pun saling memahami
erti lukisan pada kanvas resah berwarna payah
di permulaan babak cerita asmara
dalam satu episod cinta manusia
bernama Adam dan Hawa
menjelajahi belantara masa

Dari resah dan payah
dari perih dan letih
dari gundah dan goyah
kita terus mendakap cinta
memugar makna,
dengan upaya yang terbatas
- malam semakin kelam
- alam semakin faham
- dan kita semakin terhumban
di dalam gaung pentafsiran,
merungkai makna cinta

cinta pada nama; nama menjadi hina
cinta pada wanita; wanita semakin tua
cinta pada harta; harta dipinang papa
cinta pada takhta; takhta jatuh melata

Lalu kita terus mencari
meredah lembah goyah
merungkai simpul-simpul gundah
menjelajah daerah yang pasrah
di sini ketemu istana cinta
tertinggal di tebing lara

Telah kutanya pada malam
makana sebuah cinta
malam diam membungkam
kutanya pada langit
langit dihimpit perit
kutanya pada bulan
bulan berselendang gugusan awan hitam
alam terlalu setia pada cinta
cinta pada Rabnya

Lalu apakah kita harus biarkan istana cinta
menjadi punggur menanti saat tersungkur?
apakah cinta kita hanya terucap
pada malam bintang terpadam?
atau kita hanya tahu makna cinta
di atas ranjang yang tidak bernyawa
kita terus tersesat di lembah fikir dangkal

Cinta itu suara hati
dari lubuk yang sepi
di daerah hakiki seorang insani
yang mengerti makna bisikan hati
yang memahami letak kasih iman
tersiram dengan wangian amal
mengasyikkan rasa
dan kita terus terpelihara
dalam satu kelompok jiwa
bertandang di dalam sebuah bahtera
belayar menuju ke satu pelabuhan
di ufuk yang tak bertepi

Kunyanyikan lagu cinta kasih setia
seorang lelaki yang enggan menjadi tua
detik demi detik diucapkannya falsafah cinta
cinta pada nama; tersurat menjadi bicara pujangga
cinta pada manusia; terjunjung menjadi permata
cinta pada wanita; dipahat menjadi arca
cinta pada harta; untuk difahami erti duka
cinta pada Azza wajalla; membuah manusiawi dari seorang manusia
agar dapat kembali
bersama seribu janji
untuk ketemu-Mu ya ILAHI
berlindung di bawah rahmat-Mu
Ya Rabbi...Ya Rabbi...Ya Rabbi...







Tuesday, July 15, 2008

PUISI CINTA PENYAIR TUA


USIANYA seperti teja yang menanti ketibaan malam

lalu ia diusik gundah dan resah

ketika menatap purnama berkelana

berteman sejuta bintang

dan dia hanya bisa berdiri di padang lalang

sendirian merenung langit dengan seribu harapan

untuk terbang dan bertemu dengan kekasih

yang tidak diberi perhatian

yang tidak dihulurkan kesetian

buat kesekian waktu


Ditulisnya bait-bait cinta

untuk kekasih yang tidak pernah rasa kecewa

dan bait-bait itu tersusun rapi

menjadi puisi sepi seorang penyair tua

yang telah lama berkelana

mencari bunga-bunga mekar

di tengah padang lalang


Penyair tua dari kota yang tak bernama itu

mencatatkan ungkapan kasih

seorang pengembara yang telah kembali

dengan membawa seribu lara

di atas puisi cintanya

ditulisnya ‘aku kembali padamu hari ini

untuk terus mencintaimu’

wajahnya kembali bersinar

tunduk dan tafakur

menanti esok yang kian hampir


September 2004

Friday, July 11, 2008

PUISI BUAT SEORANG ISTERI

Seperti seekor camar putih

kau terbang tinggi

merentasi lautan mimpi

ke lembah cinta

ketika usia masih muda


dan kita menjadi manusia

bersama merentas laut

melihat ombak galak

ditiup bayu ungu

di tengah dunia, sendiri

menterjemah makna

bicara tanpa kata


Malam mengajar kita

mengenali kehidupan siang

kita seperti sebuah tulisan sastera

dengan jalan cerita

tertulis tanpa tema

tanpa masa pengakhirnya


di perbatasan masa

kita harus tahu

menilai realiti

di atas bumi tanpa simpati

atau akan menjadi abdi

kehidupan yang tak pasti


Jadilah kita pasangan burung camar

terbang menjelajah langit

menatap laut biru

membawa pesan pada malam

dan kita harus tahu

masa untuk kembali

menemani cemara di pantai sunyi


Akhirnya, kita harus kembali

meninjau sejarah

ada gelombang mencipta gelora

ada bayu menjadi badai

kita masih lagi berdiri di pantai

menjadi pemikir tua

dijerat falsafah manusia alpa


kutulis puisi ini

untuk seorang isteri

memahami nilai cinta

seorang suami yang berupaya

membina kehidupan berdua

berteraskan kesetiaan jiwa.


11 Julai 2008





Sunday, April 20, 2008

SESEKALI


Sesekali dalam tenang
aku perlu melangkah jauh
ke pulau bening
mencari mentari pagi

Sesekali dalam sepi
aku harus berlari sendiri
di pantai putih
mengutip sisa usia
dihempas ombak masa

Kegelapan malam di kota bingar
menambah resah
lalu malamku di sini
menjadi teman sezaman

Akan kuhilangkan segala perit
dipanah dendam semalam
yang bermula
dari sebuah cerita cinta
yang tak bernama

Di pulau sepi inilah
tempat asalku
di sini, di laut biru
di pulau hijau
di pantai putih
kutemui hening alam

Betapa aku merindui
semalm yang kian jauh
betapa aku terus dilukai
pada setiap ruang jasad

Di sini aku berlari mencari mimpi
yang hilang di malam kusam
akan kupulihkan segala resah
akan kuhilangkan segala perit

Langit kian hitam
laut kian geram
dan aku perlu berani merentasi
taufan hati yang bertiup
di setiap detik usia

Kibarkan saja panji-panji kemenanganmu
dalam perang yang tak berhujung ini
aku pasrah pada ketentuan
yang sudah tersurat di dalam sejarah diri.

Jun 2006.

Thursday, April 10, 2008

SUTINAH


senja itu ketika mentari melangkah lesu ke arah kamarnya
dan nelayan Kuala Tatau berdayung menghampiri pantai
membawa balik anugerah dari laut
kau dan aku bersama menghias pantai
dengan warna pelangi dan sebuah mimpi
bersama kita menulis lirik melodi syahdu
bersama kita membicarakan tentang sepasang merpati putih
yang mahu menjelajahi kamar malam dengan seribu mimpi indah

Tentu kau masih ingat
tentang sebuah potret yang kita lukiskan bersama
kini sudah pudar warnanya

masa berlari melintasi kita
dua dekad yang telah dihabiskan
bersama dengan sebuah harapan yang sudah tiada
api yang kita nyalakan di tepi pantai
sudah lama ditelan ombak
anak-anak nelayan yang kita didik di sekolah rendah
kini menjadi seorang ayah yang mengharungi laut
senja yang kita nikmati bersama
sudah lama berlabuh di kamar malam

kukira penantian ini telah melepasi musim
merpati yang pulang tidak membawa sebarang berita
tentang malam-malam yang kau lalui
Sutinah...di manakah tempat pertapaanmu
bersama puteri Santubong
atau berselindung di sebalik potret Monalisa

Percayalah..cerita senja di Kuala Tatau yang kita nukilkan
masih menjadi kenangan dalam hidup ini
walaupun masa untuk pertemuan terlalu jauh untuk kita kejari.

Kuching
25 Julai 1991

(puisi yang saya tulis sekitar tahun 1991 ini dipetik dari Antologi ' SATU PERASMIAN' yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sarawak dalam tahun 1992)