CINTA itu adalah sahabat setia
di atas pentas duka
adalah malam bertemankan tenang
menelusuri gelap pekat
sesejuk angin dingin
mendakap pohonan cemara di batas kota
Aduhai cinta
baris-baris kata dari jiwa remaja
dianyam menjadi puisi
terungkap bahasa abadi
untuk disimpan sampai mati
Wahai cinta
aku sudah tidak punya upaya
melukis malam seribu bintang
bertemankan suara pungguk
bertenggek di ranting kering
sepi dan sendiri
berahi menatap kekasihnya purnama
jauh di cakerawala
bercanda ditemani gugusan awan gemawan
bintang kejora dan sejuta cahaya
menyala membakar luka
kekasih yang lara
Setiap gerak setiap langkah
melalui lembah dan lurah
kutemui anak muda
bercerita tentang cinta
larik-larik madah
menggugah seribu wajah
membawaku menatap sejarah
lantas, aku pun kembali
pada semalam yang tak terlupakan
Saat mentari kembali berembunyi di sebalik banjaran gunung
air sungai mengalir menjadi permata
selembut sutera, mendakap tebing yang kedinginan
jadilah aku seorang lelaki
tertinggal di zaman silam
dan usiaku semakin muda
(atau akukah yang enggan menjadi tua?)
menggoda dengan kata-kata
menjadikan bunga di laman
kembali kembang menguntum harum
dengan seribu warna, sejuta wangian semerbak nirwana
Malam ini aku ingin bercerita tentang cinta
cinta wanita dari lembah nirmala
melangkah berani, meredah musim yang tak pasti
ketika mentari masih terlena
dan bulan teramat lelah
Kulayari subuh bersamamu
merentas lautan bening
yang tiba-tiba bertkar menjadi taufan
gelora menggila dan ombak menerkam pantai
pantai terkulai
dan kita pun saling memahami
erti lukisan pada kanvas resah berwarna payah
di permulaan babak cerita asmara
dalam satu episod cinta manusia
bernama Adam dan Hawa
menjelajahi belantara masa
Dari resah dan payah
dari perih dan letih
dari gundah dan goyah
kita terus mendakap cinta
memugar makna,
dengan upaya yang terbatas
- malam semakin kelam
- alam semakin faham
- dan kita semakin terhumban
di dalam gaung pentafsiran,
merungkai makna cinta
cinta pada nama; nama menjadi hina
cinta pada wanita; wanita semakin tua
cinta pada harta; harta dipinang papa
cinta pada takhta; takhta jatuh melata
Lalu kita terus mencari
meredah lembah goyah
merungkai simpul-simpul gundah
menjelajah daerah yang pasrah
di sini ketemu istana cinta
tertinggal di tebing lara
Telah kutanya pada malam
makana sebuah cinta
malam diam membungkam
kutanya pada langit
langit dihimpit perit
kutanya pada bulan
bulan berselendang gugusan awan hitam
alam terlalu setia pada cinta
cinta pada Rabnya
Lalu apakah kita harus biarkan istana cinta
menjadi punggur menanti saat tersungkur?
apakah cinta kita hanya terucap
pada malam bintang terpadam?
atau kita hanya tahu makna cinta
di atas ranjang yang tidak bernyawa
kita terus tersesat di lembah fikir dangkal
Cinta itu suara hati
dari lubuk yang sepi
di daerah hakiki seorang insani
yang mengerti makna bisikan hati
yang memahami letak kasih iman
tersiram dengan wangian amal
mengasyikkan rasa
dan kita terus terpelihara
dalam satu kelompok jiwa
bertandang di dalam sebuah bahtera
belayar menuju ke satu pelabuhan
di ufuk yang tak bertepi
Kunyanyikan lagu cinta kasih setia
seorang lelaki yang enggan menjadi tua
detik demi detik diucapkannya falsafah cinta
cinta pada nama; tersurat menjadi bicara pujangga
cinta pada manusia; terjunjung menjadi permata
cinta pada wanita; dipahat menjadi arca
cinta pada harta; untuk difahami erti duka
cinta pada Azza wajalla; membuah manusiawi dari seorang manusia
agar dapat kembali
bersama seribu janji
untuk ketemu-Mu ya ILAHI
berlindung di bawah rahmat-Mu
Ya Rabbi...Ya Rabbi...Ya Rabbi...
Wednesday, October 29, 2008
LAGU CINTA SEORANG LELAKI YANG ENGGAN MENJADI TUA
Posted by Pena_bahari at 8:15 PM 2 comments
Labels: puisi
Subscribe to:
Comments (Atom)