MOMEN februari ini
aku diusik bicara
serpihan catatan musim muda
bahasa tanpa kata
kata seindah permata
di batas usia jumantara
sejambak ros kalas
dari jambangan februari
untuk kekasihku
dari terminal waktu
berteman pawana
seharum cempaka
mendesir pantai ingatan
setelah kesekian waktu
menghela wangi nafasmu
lena dalam atmosfera bahagia
jadi aku seorang darwis kama
mengemis cinta seluas segara
ketika usia dikejar senja
lalu kulukis potret janji
dilatari danau puisi
melodi sunyi dan gita naluri
untuk seorang rubiah hati
sejambak ros kalas
menuntut tafsiran ikhlas
kubirai menjadi legasi
abadi di galeri hati.
12 Februari 2009
Wednesday, February 11, 2009
SEJAMBAK ROS KALAS DARI JAMBANGAN FEBRUARI
Posted by Pena_bahari at 8:06 PM 2 comments
Wednesday, October 29, 2008
LAGU CINTA SEORANG LELAKI YANG ENGGAN MENJADI TUA
CINTA itu adalah sahabat setia
di atas pentas duka
adalah malam bertemankan tenang
menelusuri gelap pekat
sesejuk angin dingin
mendakap pohonan cemara di batas kota
Aduhai cinta
baris-baris kata dari jiwa remaja
dianyam menjadi puisi
terungkap bahasa abadi
untuk disimpan sampai mati
Wahai cinta
aku sudah tidak punya upaya
melukis malam seribu bintang
bertemankan suara pungguk
bertenggek di ranting kering
sepi dan sendiri
berahi menatap kekasihnya purnama
jauh di cakerawala
bercanda ditemani gugusan awan gemawan
bintang kejora dan sejuta cahaya
menyala membakar luka
kekasih yang lara
Setiap gerak setiap langkah
melalui lembah dan lurah
kutemui anak muda
bercerita tentang cinta
larik-larik madah
menggugah seribu wajah
membawaku menatap sejarah
lantas, aku pun kembali
pada semalam yang tak terlupakan
Saat mentari kembali berembunyi di sebalik banjaran gunung
air sungai mengalir menjadi permata
selembut sutera, mendakap tebing yang kedinginan
jadilah aku seorang lelaki
tertinggal di zaman silam
dan usiaku semakin muda
(atau akukah yang enggan menjadi tua?)
menggoda dengan kata-kata
menjadikan bunga di laman
kembali kembang menguntum harum
dengan seribu warna, sejuta wangian semerbak nirwana
Malam ini aku ingin bercerita tentang cinta
cinta wanita dari lembah nirmala
melangkah berani, meredah musim yang tak pasti
ketika mentari masih terlena
dan bulan teramat lelah
Kulayari subuh bersamamu
merentas lautan bening
yang tiba-tiba bertkar menjadi taufan
gelora menggila dan ombak menerkam pantai
pantai terkulai
dan kita pun saling memahami
erti lukisan pada kanvas resah berwarna payah
di permulaan babak cerita asmara
dalam satu episod cinta manusia
bernama Adam dan Hawa
menjelajahi belantara masa
Dari resah dan payah
dari perih dan letih
dari gundah dan goyah
kita terus mendakap cinta
memugar makna,
dengan upaya yang terbatas
- malam semakin kelam
- alam semakin faham
- dan kita semakin terhumban
di dalam gaung pentafsiran,
merungkai makna cinta
cinta pada nama; nama menjadi hina
cinta pada wanita; wanita semakin tua
cinta pada harta; harta dipinang papa
cinta pada takhta; takhta jatuh melata
Lalu kita terus mencari
meredah lembah goyah
merungkai simpul-simpul gundah
menjelajah daerah yang pasrah
di sini ketemu istana cinta
tertinggal di tebing lara
Telah kutanya pada malam
makana sebuah cinta
malam diam membungkam
kutanya pada langit
langit dihimpit perit
kutanya pada bulan
bulan berselendang gugusan awan hitam
alam terlalu setia pada cinta
cinta pada Rabnya
Lalu apakah kita harus biarkan istana cinta
menjadi punggur menanti saat tersungkur?
apakah cinta kita hanya terucap
pada malam bintang terpadam?
atau kita hanya tahu makna cinta
di atas ranjang yang tidak bernyawa
kita terus tersesat di lembah fikir dangkal
Cinta itu suara hati
dari lubuk yang sepi
di daerah hakiki seorang insani
yang mengerti makna bisikan hati
yang memahami letak kasih iman
tersiram dengan wangian amal
mengasyikkan rasa
dan kita terus terpelihara
dalam satu kelompok jiwa
bertandang di dalam sebuah bahtera
belayar menuju ke satu pelabuhan
di ufuk yang tak bertepi
Kunyanyikan lagu cinta kasih setia
seorang lelaki yang enggan menjadi tua
detik demi detik diucapkannya falsafah cinta
cinta pada nama; tersurat menjadi bicara pujangga
cinta pada manusia; terjunjung menjadi permata
cinta pada wanita; dipahat menjadi arca
cinta pada harta; untuk difahami erti duka
cinta pada Azza wajalla; membuah manusiawi dari seorang manusia
agar dapat kembali
bersama seribu janji
untuk ketemu-Mu ya ILAHI
berlindung di bawah rahmat-Mu
Ya Rabbi...Ya Rabbi...Ya Rabbi...
Posted by Pena_bahari at 8:15 PM 2 comments
Labels: puisi
Tuesday, July 15, 2008
PUISI CINTA PENYAIR TUA
USIANYA seperti teja yang menanti ketibaan malam
lalu ia diusik gundah dan resah
ketika menatap purnama berkelana
berteman sejuta bintang
dan dia hanya bisa berdiri di
sendirian merenung langit dengan seribu harapan
untuk terbang dan bertemu dengan kekasih
yang tidak diberi perhatian
yang tidak dihulurkan kesetian
buat kesekian waktu
Ditulisnya bait-bait cinta
untuk kekasih yang tidak pernah rasa kecewa
dan bait-bait itu tersusun rapi
menjadi puisi sepi seorang penyair tua
yang telah lama berkelana
mencari bunga-bunga mekar
di tengah
Penyair tua dari
mencatatkan ungkapan kasih
seorang pengembara yang telah kembali
dengan membawa seribu lara
di atas puisi cintanya
ditulisnya ‘aku kembali padamu hari ini
untuk terus mencintaimu’
wajahnya kembali bersinar
tunduk dan tafakur
menanti esok yang kian hampir
September 2004
Posted by Pena_bahari at 6:04 AM 0 comments
Labels: puisi
Friday, July 11, 2008
PUISI BUAT SEORANG ISTERI
Seperti seekor camar putih
kau terbang tinggi
merentasi lautan mimpi
ke lembah cinta
ketika usia masih muda
dan kita menjadi manusia
bersama merentas laut
melihat ombak galak
ditiup bayu ungu
di tengah dunia, sendiri
menterjemah makna
bicara tanpa kata
Malam mengajar kita
mengenali kehidupan siang
kita seperti sebuah tulisan sastera
dengan jalan cerita
tertulis tanpa tema
tanpa masa pengakhirnya
di perbatasan masa
kita harus tahu
menilai realiti
di atas bumi tanpa simpati
atau akan menjadi abdi
kehidupan yang tak pasti
Jadilah kita pasangan burung camar
terbang menjelajah langit
menatap laut biru
membawa pesan pada malam
dan kita harus tahu
masa untuk kembali
menemani cemara di pantai sunyi
Akhirnya, kita harus kembali
meninjau sejarah
ada gelombang mencipta gelora
ada bayu menjadi badai
kita masih lagi berdiri di pantai
menjadi pemikir tua
dijerat falsafah manusia alpa
kutulis puisi ini
untuk seorang isteri
memahami nilai cinta
seorang suami yang berupaya
membina kehidupan berdua
berteraskan kesetiaan jiwa.
Posted by Pena_bahari at 7:19 AM 3 comments
Labels: puisi
Sunday, April 20, 2008
SESEKALI

Sesekali dalam tenang
aku perlu melangkah jauh
ke pulau bening
mencari mentari pagi
Sesekali dalam sepi
aku harus berlari sendiri
di pantai putih
mengutip sisa usia
dihempas ombak masa
Kegelapan malam di kota bingar
menambah resah
lalu malamku di sini
menjadi teman sezaman
Akan kuhilangkan segala perit
dipanah dendam semalam
yang bermula
dari sebuah cerita cinta
yang tak bernama
Di pulau sepi inilah
tempat asalku
di sini, di laut biru
di pulau hijau
di pantai putih
kutemui hening alam
Betapa aku merindui
semalm yang kian jauh
betapa aku terus dilukai
pada setiap ruang jasad
Di sini aku berlari mencari mimpi
yang hilang di malam kusam
akan kupulihkan segala resah
akan kuhilangkan segala perit
Langit kian hitam
laut kian geram
dan aku perlu berani merentasi
taufan hati yang bertiup
di setiap detik usia
Kibarkan saja panji-panji kemenanganmu
dalam perang yang tak berhujung ini
aku pasrah pada ketentuan
yang sudah tersurat di dalam sejarah diri.
Jun 2006.
Posted by Pena_bahari at 6:25 AM 0 comments
Labels: kembara
Thursday, April 10, 2008
SUTINAH
senja itu ketika mentari melangkah lesu ke arah kamarnya
dan nelayan Kuala Tatau berdayung menghampiri pantai
membawa balik anugerah dari laut
kau dan aku bersama menghias pantai
dengan warna pelangi dan sebuah mimpi
bersama kita menulis lirik melodi syahdu
bersama kita membicarakan tentang sepasang merpati putih
yang mahu menjelajahi kamar malam dengan seribu mimpi indah
Tentu kau masih ingat
tentang sebuah potret yang kita lukiskan bersama
kini sudah pudar warnanya
masa berlari melintasi kita
dua dekad yang telah dihabiskan
bersama dengan sebuah harapan yang sudah tiada
api yang kita nyalakan di tepi pantai
sudah lama ditelan ombak
anak-anak nelayan yang kita didik di sekolah rendah
kini menjadi seorang ayah yang mengharungi laut
senja yang kita nikmati bersama
sudah lama berlabuh di kamar malam
kukira penantian ini telah melepasi musim
merpati yang pulang tidak membawa sebarang berita
tentang malam-malam yang kau lalui
Sutinah...di manakah tempat pertapaanmu
bersama puteri Santubong
atau berselindung di sebalik potret Monalisa
Percayalah..cerita senja di Kuala Tatau yang kita nukilkan
masih menjadi kenangan dalam hidup ini
walaupun masa untuk pertemuan terlalu jauh untuk kita kejari.
Kuching
25 Julai 1991
(puisi yang saya tulis sekitar tahun 1991 ini dipetik dari Antologi ' SATU PERASMIAN' yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Sarawak dalam tahun 1992)
Posted by Pena_bahari at 9:13 PM 0 comments
Labels: memori